Ada sebuah kisah tentang prasangka baik itu…
Dikisahkan
ada seorang Ayah memiliki dua orang putri. Mereka berdua sebaya tapi sikap
mereka segala sesuatu berbeda, Kakaknya selalu curiga terhadap segala sesuatu
alias su’udzon, sedangkan adiknya selalu berhusnudzon dalam menghadapi segala
sesuatunya.
Suatu
hari, Ayah mereka ingin memberi kedua putrinya hadiah. Ayah tahu bahwa sang
kakak sangat menyukai perhiasan, sementara sang adik sangat menyukai kuda. Sang
Ayah membelikan kalung yang sangat mahal dan indah untuk sang kakak, sedangkan untuk
sang adik sayah ingin menguji, ia hanya memberi satu kotak kotoran kuda.
Apa yang terjadi?
Ketika si
kakak diberi kalung indah tersebut, sama sekali tidak ada senyum di pipinya,
bahkan keningnya mengernyit. “Jangan-jangan ini kalung imitasi, atau…
sepertinya kalung ini sudah dicoba oleh ribuan leher. Ah… kado yang
menyebalkan, seharusnya aku sendiri yang membelinya agar aku yakin,” gerutu si
kakak. Sang ayah terkejut sekali dengan reaksi ini. Tidak ada ucapan terima
kasih. Tidak ada pancaran kegembiraan, yang ada hanyalah tampang asam dan
kecut.
Tapi sang
ayah lebih terkejut ketika melihat reaksi si adik begitu membuka kotak
hadiahnya yang berisi satu kotak kotoran kuda! Sang adik tiba-tiba berteriak luar
biasa kencang dan girang. Ia sangat histeris sampai menghambur tahu kuda itu
dengan kedua tangannya. “ Ayaaahh… ayahhh… terimakasih… ayah sembunyikan dimana
kudanya? Ayolah katakana padaku, ayah sembunyikan dimana kuda untukku?” ucap si
adik. Sang ayah geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar, betapa bahagianya
ia melihat putri bungsunya itu bergembira hanya dengan sebuah kado sekotak kotoran
kuda, bahkan mengira sang ayah telah menyembunyikan kado yang sesungguhnya
yaitu seekor kuda. Demi memenuhi perasangka baik putrinya dan melihat
kebahagiaan di wajah putrinya itu, sang ayahpun memberikan seekor kuda.
Kita tidak pernah tau dapat lebih dari yang kita perasangkakan, jadi tetap peliharalah prasangka baik. Semoga kita terjauh dari sikap pesimis, frustasi dan takabur dalam kehidupan orang yang menjadikan husnudzon sebagai pekaiannya.
No comments:
Post a Comment